Selasa, 01 Agustus 2017

Berkumur-Kumur Dan Memasukkan Air Kedalam Hidung Sebelum Berwudhu' Bagian 34






MACAM-MACAM SUNNAHNYA WUDHU'




3. BERKUMUR-KUMUR DAN MEMASUKKAN AIR KEDALAM HIDUNG SEBELUM BERWUDU' 




﴿ وَالْمَضْمَضَةُ وَالْاِسْتِنْشَاقُ ﴾ لِفِعْلِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ 

﴾ Dan berkumur-kumur dan memasukkan air kedalam hidung ﴿ Karena perbuatannya Nabi saw 

وَقَالَ الْلإِمَامْ أَحْمَدْ بِوُجُوْبِهِمَا 

Dan Imam Ahmad berkata : dengan mewajibkan keduanya 

وَحُجَّةُ الشَّافِعِيُّ قَوْلُهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ : 《 عَشْرٌ مِنَ السُّنَّةِ وَعَدَّ مِنْهَا الْمَضْمَضَة وَالِاسْتِنْشَاقَ 》 

Dan Dalil Imam Syafi'i adalah Sabdanya Nabi saw : 《 Sepuluh dari sunnah wudhu' dan Nabi saw menghitung darinya berkumur-berkumur dan memasukkan air kedalam hidung 》 

ثُمَّ أَصْلُ السُّنَّةِ يَحْصَلُ بِإِيْصَالِ الْمَاءِ إِلَى الْفَمِ وَالْأَنْفَ سَوَاءٌ أَدَارَهُ أَمْ لاَ وَهَذَا هُوَ الرَّاجِحُ 

Kemudian asal sunnah akan terjadi dengan memutarnya air pada mulut dan hidung baik memutarnya atau tidak dan ini adalah yang Rajih 

لَكِنْ نَصَّ الشَّافِعِيُّ عَلَى إِرَادَتِهِ فِي الْفَمِ وَلاَ يُشْتَرَطُ فِي تَحْصِيْلِ السُّنَّةِ أَنْ يَمُجَّ الْمَاءَ حَتَّى لَوْ اِبْتَلَعَ تَأَدَّتِ السُّنَّةَ 

Tapi Nash Imam Syafi'i atas memutarnya dalam mulut dan tidak di syaratkan dalam mendapatkan sunnah untuk membuang air keluar sehingga seandainya tertelan, maka dia telah melakukan sunnah 

قَالَهُ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ وَذَهَبَ جَمَاعَةٌ إِلَى اشْتِرَاطِ مَجِّ الْمَاءِ فِي تَحْصِيْلِ السُّنَّةِ وَتَقْدِيْمُ الْمَضْمَضَةِ عَلَى الْاِسْتِنْشَاقِ شَرْطٌ فِي تَحْصِيْلِ السُّنَّةِ عَلَى الرَّاجِحِ وَقِيْلَ مُسْتَحَبٌّ٬ وَاللّٰهُ أَعْلَمْ 

Perkataannya Imam Nawawi dalam kitab 《 SYARAH AL-MUHADZDZAB 》 dan sebagian ulama' berpendapat di syaratkan untuk membuang air keluar dalam mendapatkan sunnah dan mendahulukan kumur-kumur atas memasukkan air ke dalam hidung adalah syarat dalam mendapatkan sunnah, atas pendapat yang Rajih dan di katakan adalah di anjurkan, dan Allah yang lebih mengetahui 

KIFAYATUL AKHYAR HALAMAN 43 

Wallahu A'lam Bish-Showab 

Sabtu, 29 Juli 2017

Mencuci Dua Telapak Tangan Sebelum Berwudhu' Bagian 33





MACAM-MACAM SUNNAHNYA WUDHU'



2. MENCUCI DUA TELAPAK TANGAN SEBELUM BERWUDHU' 



﴿ وَغَسْلُ الْكَفَّيْنِ قَبْلَ إِدْخَلِهِمَا الْإِنَاءَ ﴾ مِنْ سُنَنِ الْوُضُوْءِ غَسْلِ الْكَفَّيْنِ قَبْلَ غَسْلِ الْوَجْهِ 

 ﴾ Dan membasuh dua telapak tangan sebelum memasukkan keduanya pada bejana air ﴿ dari sunah wudhu' adalah membasuh dua telapak tangan sebelum membasuh wajah 

وَلَهُمَا أَحْوَالِ : 

Dan untuk membasuh keduanya memiliki beberapa keadaan : 

أَحَدَهُمَا : أَنْ يَتَيَقَّنَ نَجَاسَتَهُمَا فَهَذَا يُكْرَهُ لَهُ غَمْسُ كَفَّيْهِ فِي الْإِنَاءِ قَبْلَ غَسْلِهِمَا ثَلاَثًا كَرَاهَةَ تَحْرِيْمِ لِأَنَّهُ يُفْسِدُ الْمَاءُ 

Pertama : jika meyakini ada najis pada keduanya, maka ini di makruhkannya untuknya mencelupkan dua telapak tangannya dalam bejana air sebelum membasuh keduanya tiga kali dengan makruh tahrim karena sesungguhnya akan merusak air 

اَلْحَالَةِ الثَّانِيَةِ : أَنْ يَشُكَّ فِي نَجَاسَتِهِمَا كَمَنْ نَامَ وَلَا يَدْرِيْ أَيْنَ بَاتَتْ يَدَهُ فَهَذَا يُكْرَهُ لَهُ أَيْضًا غَمْسُ كَفَّيْهِ فِي الْإِنَاءِ قَبْلَ غَسْلِهِمَا ثَلَاثًا 

Keadaan yang kedua : jika ragu dalam adanya najis pada keduanya, seperti orang tidur dan tidak mengetahui kemana memastikan tangannya bergerak, maka ini di makruhkannya untuknya juga mencelupkan telapak tangannya dalam bejana air sebelum membasuh keduanya tiga kali 

لقَوْلِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ : 《 إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَيْهِ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهُمَا فِي الْإِنَاءِ ثَلَاثًا فَإِنَّهُ لَا يَدْرِيْ أَيْنَ بَاتَتْ يَدَهُ 》 

Karena sabda Nabi saw : 《 Jika bangun salah satu diantara kalian dari tidurnya, maka untuk membasuh tangannya sebelum memasukkan keduanya dalam bejana air tiga kali, maka sesungguhnya ia tidak mengetahui kemana memastikan tangannya bergerak saat tidur 》 

وَفِي رِوَايَةِ : 《 فَلَا يَغْمِسْ يَدَيْهِ فِي الْإِنَاءِ قَبْلَ أَنْ يَغْسِلَهُمَا ثَلاَثًا 》 

Dan dalam riwayat lain : 《 maka jangan mencelupkan tangannya dalam bejana air sebelum membasuh keduanya tiga kali 》 

وَهَذَا مَذْهَبُ الشَّافِعِيُّ وَمَالِكَ وَذَهَبَ بَعْضُ الْعلمَاءِ إِلَى وُجُوْبٍ غَسْلِهِمَا قَبْلَ إِدْخَالَهُمَا فِي الْإِنَاءِ عِنْدَ الْإِسْتَيْقَاظِ مِنَ النَّوْمِ لِظَاهِرِ النَّهْيِ وَلَمْ يُفَرَّقْ بَيْنَ نَوْمِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ 

Dan ini Madzhab Asy-Syafi'i dan Maliki dan Madzhab sebagian ulama' sampai mewajibkan membasuh keduanya sebelum memasukkan keduanya dalam bejana air ketika bangun dari tidur karena melihat pada dzahir pelarangan tersebut dan ia tidak membedakan antara tidur malam dan tidur siang 

وَذَهَبَ الْإِمَامُ أَحْمَدْ إِلَى وُجُوْبِ ذَلِك مِنْ نَوْمِ اللَّيْلِ دُوْنَ نَوْمِ النَّهَارِ 

Dan Madzhab Imam Ahmad sampai mewajibkan hal itu dari tidur malam bukan tidur siang 

لِقَوْلِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ : 《 أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ 》 

Karena Sabdanya Nabi saw : 《 kemana memastikan tangannya bergerak saat tidur 》 

وَالْمَبِيْتُ يَكُوْنُ بِاللَّيْلِ دُوْنَ النَّهَارِ 

Dan ia istirahat pada malam hari tanpa siang 

وَالشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللّٰهُ حَمَلَ النَّهْيِ عَلَى غَيْرِ الْوُجُوْبِ لِقَرِيْنَةِ 

Dan Imam Asy-Syafi'i Rahimahullah mengarahkan melarang atas selain yang wajib karena berdampingan dengan keadaan 

اَلْحَالَةِ الثَّالِثَةِ : أَنْ يَتَيَقَّنَ طَهَارَتَهُمَا فَهَذَا لاَ يُكْرَهُ لَهُ غَمْسِ كَفَّيْهِ فِي الْإِنَاءِ قَبْلَ غَسْلِهِمَا وَلَكِنْ يَسْتَحَبُّ 

Keadaan yang ketiga : jika meyakini suci keduanya, maka ini tidak di makruhkan untuknya mencelup telapak tangannya dalam bejana air sebelum membasuh keduanya dan akan tetapi di sunnahkan 

وَهَذِهِ الْحَالَةُ هِيَ الَّتِيْ ذَكَرَهَا الشَّيْخُ وَمَأْخَذُهَا أَنَّهُ الْوَارِدِ فِي صِفَةِ وُضُوْءِ النَّبِي صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ مِنْ غَيْرِ تَعَرُّضِ لِسَبْقِ نَوْمِ وَاِنْتَفَتِ الْكَرَاهَةِ لِفَقَدِ الْعِلَّةِ الْوَارِدَةِ فِي الْخَبَرِ إِذِ الْحُكْمُ يَدُوْرُ مَعَ الْعِلَّةِ وُجُوْدًا وَعَدَمًا٬ وَاللّٰهُ أعْلَمْ 

Dan keadaan ini adalah yang di sebutnya oleh Syekh dan alasannya bahwasannya yang di sebutkan dalam sifat wudhu' Nabi saw dari selain menyinggung untuk mengutamakan tidur dan menyepakati kemakruhan untuk menghilangkan penyebutan illat dalam Khabar, jika hukum itu berlaku bersama keberadaan illat dan ketiadaan illat, dan Allah lebih mengetahui 

قَالَ : 

Al-Mushonnif berkata : 

KIFAYATUL AKHYAR HALAMAN 42 

Wallahu A'lam Bish-Showab 

Kamis, 27 Juli 2017

Macam-Macam Sunnahnya Wudhu' Bagian 32






MACAM-MACAM SUNAHNYA WUDHU' 



1. MEMBACA BASMALAH SEBELUM BERWUDHU' 



سُنَنُ الْوُضُوْءُ 

SUNNAH WUDHU' 


فَصْلٌ 

FASHAL 



﴿ وَسُنَنُهُ عَشْرُ خِصَالٍ : اَلتَّسْمِيَةُ ﴾ لِلْوُضُوْءِ سُنَنُ مِنْهَا التَّسْمِيَةُ فِي ابْتِدَائِهِ 

﴾ Dan sunnahnya wudhu' ada sepuluh tingkatan : membaca Basmalah ﴿ untuk wudhu' memiliki beberapa sunnah darinya adalah membaca Basmalah dalam permulaan wudhu'nya 

رُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَضَعَ يَدَهُ فِي إِنَاء وَقَالَ لِأَصْحَابِهِ : 《 تَوَضَئُوْا بِاسْمِ اللّٰهِ 》 
Telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi saw meletakkan tangannya dalam sebuah bejana dan Nabi saw bersabda kepada para Shahabatnya : 《 Berwudhu'lah kalian dengan menyebut Nama Allah 》 

وَفی الْحَدِيثْ : 《 كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللّٰهِ فَهُوَ أَجْذَمُ 》 

Dan dalam Hadits lain  : 《 Setiap perkara yang memiliki kepentingan tidak memulai di dalamnya dengan Basmalah, maka perkara tersebut terputus 》 

أَيْ : أَقْطَعَ وَهِيَ سُنَّةٌ مُتَأَكِّدَةٌ 

Maksudnya : terputus dan membaca Basmalah adalah Sunnah Muakkat 

وَقَدْ قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بِوُجُوْبِهَا فَلَوْ نَسِيَهَا فِي ابْتِدَاءِ الْوُضُوْءِ أَتَى بِهَا مَتَى ذَكَرَهَا فِي الْوُضُوْءِ كَمَا فِي تَسْمِيَةِ الطَّعَامِ 

Dan sungguh Imam Ahmad berkata : dengan mewajibkannya, maka seandainya melupakannya dalam memulai wudhu' maka datang dengannya kapan ingatnya dalam wudhu' sebagaimana dalam membaca Basmalah untuk makan 

وَلَوْ تَرَكَهَا عَمْدًا فَهَلْ يُشْرَعُ تَدَارُكُهَا فِيْهِ خِلاَفٌ وَالرَّاجِحُ نَعَمْ 

Dan seandainya meninggalkannya secara sengaja, maka apakah di syari'atkan meninggalkannya, di dalamnya ada khilaf dan yang rajih adalah benar 

وَفِي الْحَدِيْثِ : 《 مَنْ تَوَضَّأَ وَذَكَرَ اسْمَ اللّٰهِ كَانَ طَهُوْرًا لِجَمِيْعِ بَدَنِهِ وَإِنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللّٰهِ تَعَالَى كَانَ طَهُوْرًا لِأَعْضَاءِ وُضُوْئِهِ 》 

Dan dalam Hadits : 《 Barangsiapa yang berwudhu' dan menyebut nama Allah, maka dia telah menyuci pada seluruh tubuhnya dan jika tidak menyebut nama Allah Ta'ala, maka dia menyuci pada organ tubuh dengan wudhu'nya 》 

KIFAYATUL AKHYAR HALAMAN 41 

Wallahu A'lam Bish-Showab 

Rabu, 26 Juli 2017

Hukum Keluar Cairan Dari Kemaluan Depan Bagian 31






HUKUM KELUAR CAIRAN DARI KEMALUAN DEPAN 



﴿ فَرْعٌ ﴾ خَرَجَ مِنْ فَرْجِهِ بَلَلٍ يَجُوْزُ أَنْ يَكُوْنَ مَنِيًا وَيَجُوْزُ أَنْ يَكُوْنَ مَذِيًا 

﴾ Cabang ﴿ Keluar dari kemaluannya basahan, maka boleh untuk mengira mani dan boleh untuk mengira madzi 

وَاشْتَبَهُ عَلَيْهِ الْحَالِ فَمَا الَّذِي يَجِبُ عَلَيْهِ فِيْهِ خِلاَفٌ مُنْتَشِرٌ 

Dan meragukan kondisi itu atasnya maka apa yang wajib di lakukan atasnya, maka di dalamnya ada khilaf yang telah tersebar luas 

عَلَّقْتُهُ فِي بَعْضِ الْكُتُبِ أَكْثَرُ مِنْ ثَلَاثَةِ عَشْرَةِ مَقَالَةً الرَّاجِحُ فِي الرَّافِعِيُّ وَالرَّوْضَةِ أَنَّهُ يَتَخَيَّرُ 

Saya telah mengumentarinya dalam sebagian Kitab sebanyak dari tiga belas pendapat yang Rajih dalam Kitab Imam Ar-Rafi'i dan Kitab 《 AR-RAUDHAH 》 Bahwasannya dia dapat memilih 

فَإِنْ شَاءَ جَعَلَهُ مَنِيًا وَاغْتَسَلُ وَإِنْ شَاءَ جَعَلَهُ مَذِياً وَغَسْلَ مَا أَصَابَهُ مِنْ بَدَنِهِ وَثَوْبِهِ وَتَوَضَّأَ لِأَنَّهُ إِذَا جَعَلَهُ مَذِيًا وَتَوَضَّأَ فَقَدْ أَتَى بِمَا يَقْتَضِيَ الْوُضُوْءُ فَارْتَفَعَ حَدَثَهُ الْأَصْغَرِ 

Maka jika ingin menjadikannya mani dan dia mandi dan jika ingin menjadikannya madzi dan dia mencuci pada apa yang mengenai dari badannya dan pakaiannya dan dia berwudhu' karena bahwasannya jika menjadikannya madzi dan dia berwudhu' maka sungguh telah melaksanakan dengan apa yang di perlukan berwudhu' maka terangkatlah hadats kecilnya dia 

وَبَقِيَ الْحَدَثُ الْأَكْبَرُ مَشْكُوْكًا فِيْهِ وَالْأَصْلُ عَدَمُهُ وَكَذَا يُقَالُ إِذَا اغْتَسَلَ 

Dan yang tetap adalah hadats besar yang ada keragu-raguan di dalamnya dan hukum asalnya adalah ketiadaannya hadats besar dan demikian di katakan seperti itu jika dia mandi 

وَقِيْلَ يَجِبُ عَلَيْهِ الْأَخْذَ بِالْإِحْتِيَاطِ لِأَنَّ تَحَقُّقُنَا شَغَلَ ذَمَّتَهُ بِأَحَدِ الْحَدَثَيْنِ وَلَا يَخْرُجُ عَنْ ذَلِكَ إِلَّا بِيَقِيْنِ بِأَنْ يَحْتَاطَ كَمَا لَوْ لَزِمَ ذَمَّتَهُ صَلَاةُ مِنْ صَلَاتَيْنِ وَلَمْ يَعْرِفْ عَيْنَهَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُصَلِّيْهُمَا وَهَذَا قَوِيُّ رَجَّحَهُ النَّوَوِيُّ رَحِمَهُ اللّٰهُ فِي شَرْحِ اَلتَّنْبِيْهُ وَفِي رُؤُوْسِ الْمَسَائِلُ لَهُ٬ وَاللّٰهُ أَعْلَمْ  

Dan di katakan wajib atasnya mengambil dengan kehati-hatian karena sesungguhnya kami menerima tanggungan yang di yakini dengan mengambil dua hadats dan tidak akan keluar dari hal itu kecuali dengan meyakini untuk kehati-hatian sebagaiman seandainya harus dikenakan kewajiban satu Shalat dari dua Shalat dan tidak mengetahui dari melihatannya Shalat yang mana, maka wajib atasnya untuk Shalat keduanya dan ini pendapat yang kuat dan di rajihkan oleh Imam Nawawi dalam kitab 《 SYARAH AT-TANBIH 》 dan dalam kitab 《 RU-US MASA-IL 》 pada karyanya, Allah lebih mengetahui 

قَالَ : 

Al-Mushonnif berkata : 

KIFAYATUL AKHYAR HALAMAN 41 

Wallahu A'lam Bish-Showab 

Senin, 24 Juli 2017

Hukum Tartib Ketika Berwudhu' Bagian 30






HUKUM TARTIB KETIKA BERWUDHU' 



قَالَ : ﴿ وَالتَّرْتِيْبُ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ ﴾ اَلْفَرْضُ السَّادِسُ : اَلتَّرْتِيْبُ وَفَرْضِيَّتُهُ مُسْتَفَادَةُ مِنَ الْآيَةِ 

Al-Mushonnif berkata : ﴾ Dan tartib atas apa yang telah kami jelaskannya ﴿ Fardhu yang ke enam : berurutan dan fardhunya wudhu' dapat mengambil manfaat dari ayat 

إِذَا قُلْنَا الْوَاوُ لِلتَّرْتِيْبُ وَإِلَّا فَمِنْ فِعْلِهِ وَقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلاَمُ 

Jika kami mengatakan huruf Wawu untuk Tartib dan tapi Wawu tidak menunjukkan urutan, maka mengambil dari perbuatannya Nabi saw dan sabdanya Nabi saw 

إِذَا لَمْ يُنْقَلُ عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ أَنَّهُ تَوَضَّأَ إِلَّا مُرَتَّبًا وَلِأَنَّهُ 

Jika tidak dapat mengutip dari Nabi saw bahwasannya berwudhu' kecuali berurutan karena sesungguhnya 

KIFAYATUL AKHYAR HALAMAN 40 

عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ٬ قَالَ بَعْدَ : أَنْ تَوَضَّأَ مُرَتَّبًا 

Nabi saw bersabda setelah itu bahwa berwudhu' secara berurutan 

《 هَذَا وُضُوْءُ لَا يَقْبَلُ اللّٰهُ الصَّلاَةُ إِلَّا بِهِ 》 

《 inilah wudhu' yang Allah tidak menerima Shalat kecuali dengannya 》 

أَيْ : بِمِثلِهِ وَلِأَنَّ الْوُضُوْءَ عِبَادَةِ تَرْجِعُ فِي حَالَةِ الْغُدْرِ إِلَى نِصْفِهَا 

Maksudnya : dengan seperti ini dan karena bahwa berwudhu' adalah ibadah dapat di kembalikan dalam ke adaan berudzur pada setengahnya berwudhu' 

فَوَجَبَ فِيْهَا التَّرْتِيْبُ كَالصَّلاَةِ فَلَوْ نَسِيَ التَّرْتِيْبَ لَمْ يُجْزِهُ كَمَا لَوْ نَسِيَ الْفَاتِحَةَ فِي الصَّلاَةِ أَوِ النَّجَاسَةَ عَلَى بَدَنِهِ 

Maka wajib dalam ibadah tersebut mengerjakannya secara berurutan seperti Shalat, maka seandainya seseorang lupa urutan, tidak mencukupi wudhu'nya, sebagaimana seandainya lupa Al-Fatihah dalam Shalat atau ada Najis atas tubuhnya 

KIFAYATUL AKHYAR HALAMAN 41 

Wallahu A'lam Bish-Showab 

Minggu, 23 Juli 2017

Hukum Dua Hadats Yang Berkumpul Bagian 29






HUKUM DUA HADATS YANG BERKUMPUL 



﴿ فَرْعٌ ﴾ إِذَا اجْتَمَعَ عَلَى الشَّخْصِ حَدَثَ أَصْغَرِ وَهُوَ الْوُضُوْءِ وَحَدَثُ أَكْبَرُ وَهُوَ الْغَسْلُ فَفِيْهِ خِلاَفٌ مُنْتَشِرُ الصَّحِيْحُ الْمُفْتَى بِهِ يَكْفِيْهِ غَسْلُ جَمِيْعِ بَدَنِهِ بِنِيَّةِ الْغَسْلُ 

﴾ Cabang ﴿ jika berkumpul atas seseorang hadats kecil dan dia berwudhu' dan hadats besar dan dia mandi, maka di dalamnya ada khilaf yang tersebar luas, pendapat yang Shahih dan difatwakan dengannya akan mencukupinya mandi seluruh badannya dengan niat mandi 

وَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْجَمْعُ بَيْنَ الْوُضُوْءِ وَالْغَسْلُ وَلَا تَرْتِيْبُ فِي ذَلِكَ، وَاللّٰهُ أَعْلَمْ 

Dan tidak wajib atasnya mengumpulkan antara wudhu' dan mandi dan tidak ada tertib dalam hal itu, dan Allah lebih mengetahui 

KIFAYATUL AKHYAR HALAMAN 40 

Wallahu A'lam Bish-Showab

Sabtu, 22 Juli 2017

Cara Membasuh Kedua Kaki Sampai Dua Mata Kaki Bagian 28






CARA MEMBASUH KEDUA KAKI SAMPAI DUA MATA KAKI KETIKA BERWUDHU' 



قَالَ : ﴿ وَغَسْلُ الرِّجْلَيْنِ مَعَ الْكَعْبَيْنِ ﴾  

Al-Mushonnif berkata : ﴾ Dan membasuh kedua kaki bersama dua mata kaki ﴿ 

لِقَوْلِهِ تَعَالَى : 《 وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ 》 

Karena Firman-Nya Allah Ta'ala : 《 Dan basuhlah kaki kalian sampai dua mata kaki 》 

فَعَلَى قِرَاءَةِ النَّصْبِ يَكُوْنُ الْغَسْلُ مُتَعَيِّنًا وَالتَّقْدِيْرِ وَاغْسِلُوْا أَرْجُلِكُمْ وَعَلَى قِرَاءَةِ الْجَرِّ فَالسُّنَّةُ بَيَّنَتِ الْغَسْلُ وَلَوْ كَانَ الْمَسْحُ جَائِزًا لَبَيَّنَهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ مَرَّةِ كَمَا فَعَلَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَيرِ ذَلِكَ 

Maka pada lafadz 《 ARJULAKUM 》 di baca Nashab, akan harus menjadi membasuh dan di perkirakan basuhlah kaki kalian dan jika lafadz 《 ARJULIKUM 》 atas membaca Jar, maka sunnah tetap menjelaskan suatu basuhan dan jika seandainya ada yang membasuh itu boleh dalam wudhu' pasti untuk di jelasankan oleh Nabi saw walaupun sekali, sebagaimana yang di lakukan Nabi saw dalam selain hal itu 

قَالَ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِ مُسْلِمْ وَاتِّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِالْكَعْبَيْنِ الْعَظْمَانِ النَّاتِئَانِ بَيْنَ السَّاقِ وَالْقَدَمِ وَفِي كُلِّ رِجْلٍ كَعْبَانِ 

Imam Nawawi berkata dalam kitab 《 SYARAH MUSLIM 》 para ulama' sepakat atas mata kaki, bahwa maksud dengan dua mata kaki adalah dua tulang yang menonjol di antara betis dan telapak kaki dan dalam setiap kaki memiliki dua mata kaki 

وَشَذَّتِ الرَّافِضَةِ قَبَّحَهُمُ اللّٰهُ تَعَالَى فَقَالَتْ فِي كُلِّ رِجْلٍ كَعْبٌ وَهُوَ الْعَظْمُ الَّذِي فِي ظَهْرِ الْقَدَمِ 

Dan sekelompok Rofidhah mengeluarkan pendapat yang sangat janggal, maka ia berkata : dalam setiap kaki memiliki mata kaki dan dia adalah tulang yang ada di punggung telapak kaki 

وَحُكِيَ هَذَا عَنْ مُحَمَّد بِنْ اَلْحَسَنْ وَلَا يَصِحُّ وَحُجَّةُ الْعُلَمَاءِ فِيْ ذَلِكَ نَقْلُ أَهْلِ اللُّغَةِ وَالْإِشْتِقَاقُ وَهَذَا 

Dan kisah ini dari Muhammad Bin Al-Hasan dan pendapat tersebut tidak benar darinya dan alasan para ulama' dalam hal itu menukil dari ahli bahasa dan ahli kosa kata dan ini 

KIFAYATUL AKHYAR HALAMAN 39 

اَلْحَدِيْثُ الصَّحِيْحُ الَّذِيْ نَحْنُ فِيْهِ يَدُلُّ لِذَلِكَ فَفِيْهِ 

Hadits Shahih yang kami jadikan dalil untuk hal itu, maka dalam hadits tersebut adalah di dalamnya di sebutkan 

《 فَغَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَرِجْلَهُ الْيُسْرَى كَذَلِكَ 》 

《 maka basuhlah kakinya yang kanan sampai dua mata kaki dan kakinya yang kiri seperti itu 》 

فَأَثْبَتَ فِيْ كُلِّ رِجْلٍ كَعْبَيْنِ، وَاللّٰهُ أَعْلَمْ 

maka menetapkan dalam semua kaki sampai dua mata kaki, dan Allah lebih mengetahui 

قُلْتُ وَحَدِيْثُ النُّعْمَانِ بِنْ بَشِيْرَ رَضِيَ اللّٰهُ تَعَالَى عَنْهُ صَرِيْحَ فِي ذَلِكَ 

Saya berkata dan hadits An-Nu'man Bin Basyir ra, telah jelas dalam hal itu 

قَالَ : قَالَ لَنَا رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : 《 أَقِيْمُوْا صُفُوْفَكُمْ فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ مِنَّا يُلْصِقُ مِنْكِبَهُ بِمِنْكَبِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ 》 

ia berkata : Rasulullah bersabda kepada kami : 《 tegakkanlah Shaf kalian, maka saya melihat laki-laki dari kami akan melekatkan bahunya dengan bahu temannya dan kakinya dengan kaki temannya 》 

وَمَعْلُوْمٌ أَنَّ هَذَا فِي كَعْبِ الْمَفْصِلِ وَلَا يَتَأَتَّى فِي الَّذِيْ عَلَى ظَهْرِ الْقَدَمِ، وَاللّٰهُ تَعَالَى أَعْلَمْ 

Dan telah di ketahui bahwa ini dalam mata kaki yang bersambung dengan dua tulang dan tidak dapat mengakibatkan dalam kaki yang atas punggung mata kaki, dan Allah Ta'ala lebih mengatahui 

وَاعْلَمْ أَنَّ الْغَسْلَ وَاجِبٌ إِِذَا لَمْ يَمْسَحَ عَلَى الْخُفِّ وَقِرَاءَةِ الْجَرِّ مَحْمُوْلَةٍ عَلَى مَسْحِ الْخُفِّ 

Dan ketahuilah bahwa membasuh kaki adalah wajib apabila tidak mengusap atas sepatu dan membaca Jar di bebankan atas membasuh sepatu 

وَيَجِبُ غَسْلُ جَمِيْعِ الرِّجْلَيْنِ بِالْمَاءِ وَيُنَقِّي الْبَشَرَةِ وَالشَّعْرُ حَتَّى يَجِبُ غَسْلُ مَا ظَهَرَ بِالشَّقِّ 

Dan wajib membasuh seluruh kaki dengan air dan meliputi kulit dan rambut sehingga wajib membasuh apa yang nampak dengan sebagian yang teriris   

وَلَوْ وَضَعَ فِي الشَّقِّ شَمْعَةً أَوْ حِنَّاءً وَلَهُ جِرْمِ لَا يَجْزِيْءُ وُضُوْؤُهُ وَلَا تَصِحُّ صَلاَتُهُ وَكَذَا يَجِبُ عَلَيْهِ إِزَالَةِ خُرْءِ الْبَرَاغِيْثِ حَيْثُ اسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَحْتَرِزَ عَن مِثْلِ ذَلِكَ فَلَوْ تَوَضَّأَ وَنَسِيَ إِزَالَتَهُ ثُمَّ عَلِمَ وَجَبَ عَلَيْهِ غَسْلُ ذَلِكَ الْمَكَانِ وَمَا بَعْدَهُ وَإِعَادَةِ الصَّلاَةِ، وَاللّٰهُ أَعْلَمْ 

Dan seandainya seseorang menaruh dalam sebagian yang teriris dengan lilin atau pacar dan padanya badan yang terluka tidak mencukupi wudhu'nya dan tidak Shah Shalatnya dan demikian wajib atasnya menghilangkan tahi kuku ketika bangun dari tidurnya, maka untuk berhati-hati dari menyerupai hal itu, maka seandainya berwudhu' dan lupa menghilangkannya, kemudian mengetahui, maka wajib atasnya membasuh pada tempatnya itu dan apa yang setelahnya dan memperbarui Shalatnya, dan Allah lebih mengetahui 

KIFAYATUL AKHYAR HALAMAN 40 

Wallahu A'lam Bish-Showab 

Syarat Benda Yang Boleh Di Gunakan Untuk Cebok Bagian 50

SYARAT-SYARAT BENDA YANG BOLEH DI GUNAKAN UNTUK BERISTINJA' ( CENOK ) وَاعْلَمْ أَنَّ كُلَّ مَا هُوَ فِی مَعْنَى ال...